Legam… hitam…
Di sudut pandangan culas menerawang
Berkelebat bayangan datang dan hilang
Hitam, putih
Malaikat bersayap berlalu dengan satu kepakan
Meninggalkan seberkas cahaya jingga
Terpancar dari hati yang terluka
Bertetes darah, tercurah
Jatuh dari genggaman
Tak bisa ku gapai, tak juga hilang
Berkas darah, atau kegalauan pikiran
Yang memaksa cahaya menjadi jingga?
By. Laily
: Leo
Pagi tak sehijau daun di mataku
Udara tak sebiru langit dalam hembusan nafasku
Karena ada yang berbeda esok.
Aku ingin menahan malam,
Tak ingin meninggalkan ku sendiri menghadapi esok
Aku ingin keharuman mawar yang sama,
Saat purnama menebar cahaya indahnya di ubun-ubun kita
Memantulkan cahaya keperakan pada rambut kita
Dan kau hidangkan senyuman khas
Lalu jadilah malam yang dingin itu hangat
Aku ingin menatap matahari yang sama seperti kemarin,
Seperti matahari yang mengendap dibalik kabut
Saat kita menjelmakan secangkir kopi dipinggiran trotoar
Dan berjuta mata akan memandang penuh tanya ke arah kita
Dan kita hanya akan tertawa
Pagi tak lagi sehijau daun di mataku
Pagi tak akan menghadirkan nyanyian burung yang sama
Namun pagi ini akan tetap menjadi milik kita.
By. Laily LP
Keindahan kata, tak mampu memperindah kenangan.
Hanya sebuah pena, tak kan mampu menggoyahkan hati yang bergenggaman erat.
Karena itulah, biar kusimpan kau dalam hati ku saja.
Cuma ini yang bisa ku ucap,
karena yang lain aku bisu!
Seperti kau,
yang membisu karena Ku.
Malam tak lagi hembuskan nyawa
Ketika Izro’il menghunus pedangnya
dan merobek jantung kegetiran malam
yang tak dapat ditembus oleh kebenaran logika
tak ada senyuman,
tak ada nafas,
bahkan tak kan ada tangis.
Laily_lp